 |
| Malam di Gua Maria |
|
26 Februari 2016
Holaaa!!
Semalam aku
mengikuti misa tirakatan malam Jumat Legi di Gua Maria Lourdes Pohsarang. Sudah
lama sekali aku tidak mengikuti misa tirakatan di sana. Sejak aku kuliah, aku
kehilangan banyak waktu untuk doa atau sekedar main ke Pohsarang. Tapi aku
selalu menyempatkan diri ke sana ketika pulang dari Magetan atau ketika harus
kembali ke Magetan lagi.
Jadi ceritanya,
kemarin siang aku sedang santai dan main piano di ruang depan. Aku iseng buka
Kidung Adi, ketemulah aku dengan lagu berjudul Ndherek Dewi Maria, dan aku
ingat kalau hari ini adalah Jumat Legi. Berlarilah aku ke Bapak dan Ibu yang
sedang ngopi santai di dapur. Langsung minta bapak untuk antar aku ikut misa
tirakatan di Pohsarang. Kemudian Bapak dan Ibu saling berpandangan dan tertawa.
Ternyata Ibuku sudah mewanti-wanti Bapak agar tidak bilang ke aku kalau hari
ini adalah Jumat Legi, karena aku pasti minta ke Pohsarang dan Ibuku takut aku
kecapekan(karena baru pulang) dan kehujanan karena sedang musim hujan. Aku
tertawa dan aku bilang kalau aku baru sadar kalau hari ini ada misa tirakatan.
Aku merayu kedua orang tuaku agar aku dibolehkan ikut misa tirakatan. Akhirnya Bapak
mau mengantarku ke Pohsarang, tapi agak malam karena Bapak harus ikut doa arwah
di lingkunganku sampai jam 19.30 WIB.
Ketika bapak doa
arwah, aku mempersiapkan segala keperluan. Dari tikar, botol minum, dan senter
jika nanti tidak dapat tempat yang terang. Akhirnya aku berangkat bersama bapak
dan dua orang yang masih selingkungan dengan kami. Kami berangkat sekitar pukul
20.00 WIB. Aku memperkirakan bahwa parkiran sudah penuh, tepi ternyata ketika
sampai di sana sekitar pukul 21.00 WIB, masih ada tempat parkir yang kosong.
Puji Tuhan.
Sampai di area Gua
Maria, ternyata sudah banyak sekali umat yang datang. Aku memilih tempat seperti biasanya, yaitu di
bawah pohon beringin, karena dekat dengan lampu sehingga lebih terang. Petugas
Misa kali ini dari Paroki St. Maria dengan Tidak Bernoda Asal Tulungagung. Misa
diiringi oleh musik gamelan. Waaahhh, favoritkuuu!
Sebelum tirakatan
dimulai, ada katekese yang dibawakan oleh seorang Romo yang juga seorang dosen
di Seminari Tinggi (kalau tidak salah dengar). Katekese dimulai sekitar pukul
21.30 WIB. Katekese yang dibawakan kala itu mengenai kisah hidup Sr. Faustina. Setelah
katekese selesai, tirakatan Jumat Legi dimulai pukul 23.00 WIB diawali dengan
menyanyikan lagu Ndherek Dewi Maria dan dilanjutkan dengan Doa Rosario diikuti
perarakan patung Bunda Maria dari pendopo menuju ke Gua. Suasana begitu hening.
Inilah yang selalu membuatku tertarik untuk ikut tirakatan di sini.
Setelah doa Rosario
selesai, dilanjutkan dengan pembacaan intensi misa yang bersamaan dengan
pembakaran ujub dan kemudian mendoakan doa kepada St. Maria Lourdes. Perayaan
ekaristi dimulai sekitar pukul 24.00 WIB. Perayaan Ekaristi dimulai dengan lagu
Pembuka berbahasa Jawa yang diiringi dengan musik Gamelan.Bagiku tidak ada yang
lebih indah dari mengikuti Misa dengan iringan gamelan di suasana yang hening.
Tuhan serasa dekat dengan hamba-hambaNya.
Setelah perayaan
Ekaristi selesai, dilanjutkan dengan Adorasi kepada Sakramen Mahakudus yang
diawali dengan doa Koronka kepada Kerahiman Illahi. Tirakatan selesai sekitar
pukul 01.30 WIB. Banyak umat yang langsung pulang, namun ada juga yang memilih
untuk beristirahat dulu, dan tidur di area Gua Maria, tapi ada juga yang
memilih beristirahat di Pendopo.
Karena Bapak
mengeluh ngantuk, akhirnya Bapak beristirahat dulu di wilayah Gua Maria. Dan aku
memilih untuk jalan-jalan sendirian untuk keliling wilayah Gua Maria. Ini
pertama kali aku jalan-jalan sendirian pagi-pagi buta hanya berteman dengan
kameraku.
Pertama aku
jalan-jalan menuju ke Pondok Rosario. Aku memilih untuk menuju ke Peristiwa Cahaya
karena hanya di sanalah yang lampunya
dinyalakan dan perisitwa-peristiwa lainnya terlihat sangat gelap dari kejauhan.
Walaupun suasananya gelap dan ada suara-suara burung yang aneh, aku sama sekali
tidak takut karena aku percaya bahwa di sini adalah tempat doa.
Perjalanan selanjutnya
aku turun menuju area jalan salib. Pertama aku ragu, karena area jalan salib berada
di tempat yang gelap. Untuk menuju ke sana, kita akan melewati sebuah jembatan
besar, yang di bawahnya terdapat sungai. Di kanan kiri terdapat bambu-bambu,
setiap ada angin, bambu saling bergesekan dan menghasilkan suara khas. Aku tidak
ragu lagi, karena di sana aku mendengar ada suara lantunan doa, dan ternyata
ada satu keluarga yang sedang jalan salib di sana. Akhirnya aku memberanikan
diri untuk masuk dan hanya sampai di perhentian pertama aku langsung kembali
dan duduk-duduk di jembatan.
Aku memutuskan
untuk kembali ke depan Gua Maria, mengambil beberapa foto dan beristirahat di
tangga. Kemudian Bapak menghampiriku dan mengajakku ngopi di warung kecil. Ya,
bapakku dimanapun dan kapanpun akan selalu mencari kopi. Ternyata toko-toko di
sana sudah banyak yang tutup, atau kalaupun tidak tutup, lampu toko dimatikan
dan pemiliknya tidur.
Oh ya, di sini
anjing berkeliaran dengan bebas. Seperti ini, mereka tidur di tengah jalan dan
seakan sudah biasa bertemu dengan orang banyak. Mereka jinak kok, asal nggak
diganggu.
Sekitar pukul 04.30
kami memutuskan untuk pulang. Sebelum pulang, aku minta ijin bapak untuk ke
halaman depan dan memotret halaman sembari menunggu Bapak ambil mobil di
parkiran yang jaraknya lumayan jauh.
Perjalanan, aku
tidak tahu apa-apa , tiba-tiba aku sudah sampai di rumah sekitar pukul 05.30
WIB. Ternyata aku ketiduran. Haha. Sampai di rumah aku hanya melanjutkan tidur
sampai jam 08.00 untuk bayar hutang tidur. Hehe. Semoga ini bukan kali terakhir
aku mengikuti tirakatan di Pohsarang. Semoga selalu ada kesempatan, walaupun
jadwal kuliah sangat padat.