Pages

Kau; Pulangku

Jumat, 20 Mei 2016

Karena perjalanan yang mempertemukan kita. Yang belum terubah dari pikiranku ialah kau merupakan jalan pulang. Bau bahan bakar mesin bus, obrolan yang membuatku benar-benar tertarik untuk mendengarnya, semua tak pernah muncul samar-samar, otakku tak segan memperjelas setiap rekam laku. Aroma itu membuatku tak jelas pikir.

Kau tahu bagaimana aku seharusnya. Kau mengenalku dalam puluhan jam. Sebegitu pula kau mengikutsertakan aku dalam barisan nama perempuan yang menginginkan senja denganmu.

Di setiap perhentian bus, mataku mencari matamu. Ingin bertatap mengenai janji yang belum sempat tertepati; memperjelas apa yang telah terjadi. Emosi, emosi mana yang membuatmu berkehendak memilih berhenti pada keadaan ini.

Teman-temanku tahu, betapa gila aku melekukkan senyum atas kabar darimu. Mereka tahu betapa mati aku atas keputusanmu. Mereka tahu betapa aku jatuh bangun membuat lupa. Tapi setiap jalan pulang adalah kau. Kemana aku pulang, kau adalah satu-satunya yg ingin kusanding bersama senja.

Aku pulang,

Jumat, 20 Mei 2016, 18.20 WIB, kursi terdepan bus Jogja- Surabaya

Air Mineral Buatmu

Selasa, 10 Mei 2016

Ketika itu kau benar-benar sibuk dan berdebar. Kau bilang kau haus. Aku yang penuh peluh dan kaki hampir lumpuh harus berlari demi sebotol air mineral dengan sedotan; tanpa diminta. Aku kembali dengan menyeret kaki setengah berlari. Kau menerimanya dengan kejut, heran. Kau bilang aku teman yang baik. Kau minum hingga separuh, kemudian menitipkannya kembali padaku, kau berlari. Tenggorokanku terasa lega, meski tak ikut digelontor air. Kau naik ke atas sana dengan sebuah mawar di tanganmu, menghadap aku, aku tersenyum. Kemudian mawar itu sampai pada orang yang tepat, di tangan sahabatku.

22 Oktober 2014

Kepada Pemilik Suara Itu

Jumat, 08 April 2016

Wajahmu hanya 10% tersimpan dalam ingatanku, sisanya adalah suara yang membikin rindu. Kata-kata yang merdu, lagu-lagu sendu, gurauan tak bermutu, penyemangat yang memburu, argumen yang diadu, jadi rindu yang membatu. Bolehkah ia tak lagi bisu? Adakah ijin supaya ia diperdengarkan untuk aku? Gelak tawa kini jadi kaku, senyum-senyum itu palsu, aku mengaku. Janji kusut sudah berdebu, disimpan dalam-dalam, terbakar, menjadi abu. Adakah mungkin janji bertemu menjadi baru? Kalau saja dulu tak diburu waktu. Andai saja aku duduk di sampingmu.

Jumat, 8 April 2016, 22.30 WIB

Lelaki di Balik Kacamata

Senin, 04 April 2016

Aku menatap gadismu dari kaca matamu Samar-samar bayangan terpantul
Mengarah pandanganku padanya dengan telanjang mata
Jatuh cinta telah membuat pandanganmu  memburam
Hanya kau yang tahu sudut-sudut keindahannya
Meski di mata lain, gadismu penuh cela
Tak ada yang punya daya meruntuhkan prinsip-prinsip yang dibangun di atas kejatuhcintaan
Pun dalil-dalil bijaksana para filsuf tua

Bertemu Lagi

Jumat, 25 Maret 2016

Sejak usia 5 tahun, sudah ratusan kali bertemu. Sempat menjadi kita, lalu bertahun-tahun pura-pura lupa satu sama lain. Kemudian dipertemukan lagi tahun lalu, kamu pura-pura kenal tapi lupa. Kemarin adikmu duduk denganku, kamu ada, sempat saling sapa tapi ragu. Hari ini bertemu, banyak sekali yang memutar di memori. Apakah bola basket masih jadi sahabatmu? Ataukah Michael Jackson masih jadi idolamu? Bagaimana kabar arlojimu yg dulu kebetulan sama denganku?

Untukmu yang Dibuai Senja

Selasa, 22 Maret 2016

Cukup kau yang berkisah. Nada-nada menari dalam visualisasi. Senja takkan pernah ada habisnya dalam cerita. Ketika kau lambat merambat memalamkan senja, tak serta merta kisahmu tamat. Mengekor itu senja dalam mimpi, senja mengikut malam menjadi pagi. Bukan, bukan aku pemeran kisah itu. Tak perlu lebih, hanya kau dan kekasihmu. Melawan senja menghadap malam, dalam puncak tertinggi hingga tenggelam. Arus membawamu dalam-dalam. Ia di dekapmu, hangat seperti lampu-lampu kerlip yang jauh dari letakmu yg tinggi. Kisahmu menginspirasi, jadi bait-bait puisi. Kalaupun kau pergi, kau tak berkisah lagi, ceritamu ada dalam musisi, selalu tervisualisasi, lagi dan lagi.

Menuju Senja- Payung Teduh

RESULT IS A GIFT OF PROCESS

Senin, 07 Maret 2016


Source: http://www.amparents.org


Manusia selalu berproses setiap hari. Setiap orang melalui proses penempaan yang berbeda-beda. Tuhan sudah merencanakan segalanya sejak sebelum manusia diciptakan. Masing- masing diberi beban tertentu sesuai dengan porsinya. 

“Aku sudah belajar tiap malam, hingga larut malam, bangunpagi-pagi untuk belajar lagi. Beribadah juga sudah aku lakukan dengan rajin, tanpa pernah melewatkannya. Tapi nilaiku biasa-biasa saja. Dia, yang hanya bikin contekan ketika mau ujian, lebih banyak bersantai, tapi nilainya jauh di atasku. Ini tidak adil”

Tidak ada yang tidak adil di dunia ini. Semuanya butuh waktu untuk membuktikan keadilan. Bahkan untuk mengerti kehendakNya kesabaran memang sangat dibutuhkan. Yang perlu dilakukan hanyalah tetap melakukan semuanya dengan maksimal, sembari menunggu hasil yang sepadan dengan usaha.

Manusia akan selalu melihat hasil akhir, tapi hasil akhir sendiri takkan pernah mengingkari usaha. Percayalah, usahamu akan dibayar lunas pada akhirnya. Berproses melalui hal yang baik akan mendapatkan hasil yang lebih baik. Kamu iri dengan cara berproses seperti itu?Kalau aku sih NO.

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS