Karena perjalanan yang mempertemukan kita. Yang belum terubah dari pikiranku ialah kau merupakan jalan pulang. Bau bahan bakar mesin bus, obrolan yang membuatku benar-benar tertarik untuk mendengarnya, semua tak pernah muncul samar-samar, otakku tak segan memperjelas setiap rekam laku. Aroma itu membuatku tak jelas pikir.
Kau tahu bagaimana aku seharusnya. Kau mengenalku dalam puluhan jam. Sebegitu pula kau mengikutsertakan aku dalam barisan nama perempuan yang menginginkan senja denganmu.
Di setiap perhentian bus, mataku mencari matamu. Ingin bertatap mengenai janji yang belum sempat tertepati; memperjelas apa yang telah terjadi. Emosi, emosi mana yang membuatmu berkehendak memilih berhenti pada keadaan ini.
Teman-temanku tahu, betapa gila aku melekukkan senyum atas kabar darimu. Mereka tahu betapa mati aku atas keputusanmu. Mereka tahu betapa aku jatuh bangun membuat lupa. Tapi setiap jalan pulang adalah kau. Kemana aku pulang, kau adalah satu-satunya yg ingin kusanding bersama senja.
Aku pulang,
Jumat, 20 Mei 2016, 18.20 WIB, kursi terdepan bus Jogja- Surabaya