Pages

Kenapa Memilih Bidan?

Rabu, 17 Februari 2016

Jadi apa ya? Jadi apa prok prok prok..
Kalau ditanya tentang cita-cita mau jadi apa, saja sejak dari orok sampai kelas 12 SMA aku jawab GURU. Kalau ditanya kenapa, mungkin karena jika ditarik garis keturunan, dari jaman nenek moyang Mbah buyut, sampai ibuku semuanya jadi guru. Lalu kenapa aku bisa nyasar kuliah di kebidanan? Ceritanya panjang!
Jujur saja, dari orok sampai dengan SMA kelas 12 aku sama sekali tidak tertarik dengan bidang kesehatan. Yang ada di pikiranku hanya darah dan bukan sebuah rahasia bahwa aku merasa sangat ngeri dengan darah. Kok masuk bidan? (2) Sabar, ceritanya panjang!
Sejak awal masuk SMA, bapakku menyarankan aku masuk kebidanan dan apa jawabanku saat itu? BIG NO! Bahkan aku sempat bilang bahwa lebih baik aku nggak kuliah daripada harus masuk kebidanan. Kok sekarang masuk kebidanan sih? (3) IYA, SABAR, aku udah bilang kalau ceritanya panjang, kan?
Bidan. Bidan adalah salah satu profesi abadi yang tertua.  Itulah kenapa, ketika orang mendengar kata bidan, mungkin yang di pikirannya adalah dukun bayi. Bidan, tukang nggeret jabang bayi dari rahim emaknya. Bidan sering dipandang sebelah mata oleh banyak orang. Siswa SMA kebanyakan maunya jadi dokter! Mungkin gara-gara waktu kecil sering dengar lagu Susan yang pengen jadi dokter.
Kelas 12 SMA, memang waktu yang paling membuat risau. Memilih jurusan bagaikan memilih jodoh; bakal dipakai selamanya. Siapapun tidak ingin salah langkah. Begitu pula aku. Aku memang bukan siswa yang terhitung pandai di kelas. Aku ambil jurusan favoritku. Jurusan itu adalah jurusan dengan grade paling rendah di PTN yang cukup terkemuka ketika SNMPTN. Dan aku TIDAK LOLOS. Kecewa? Pasti! Untung saja, sebelumnya aku sudah mendaftar di beberapa politeknik kesehatan melalui jalur PMDP. Sehingga paling tidak, aku sudah punya pegangan untuk ke depannya.
Puji Tuhan, aku diterima di salah satu perguruan tinggi kedinasan di bawah Kementerian Kesehatan RI, yaitu Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya. Aku mengambil program studi DIII Kebidanan kampus Magetan. Diterima di perguruan tinggi itu rasanya lega, bahagia, bingung, tiba-tiba semangat, bersyukur, takut, khawatir semuanya jadi satu!
Aku sempat dipandang sebelah mata karena ambil kebidanan, bahkan itu sempat membuatku drop untuk beberapa bulan. Tapi aku memang dasarnya memang pendendam, jadi aku ingin sekali menunjukkan kepada mereka bahwa aku tidak salah pilih. Ya, cuma itu caraku untuk balas dendam kepada mereka. Just show them that you can and you will get what you want!
Oh ya, kenapa kebidanan?
Aku sendiri juga bingung. Haha. Gak ding, waktu aku mencari jurusan yang cocok denganku. Aku mempertimbangkan 2 hal. Yang pertama, aku mempertimbangkan kemampuan dan ketertarikanku. Kenapa? Karena percuma ketika kamu memelajari sesuatu yang sama sekali tidak membuatmu tertarik! Hal itu malah bikin bosan, jenuh, dan kamu tidak akan enjoy dalam menjalani kuliah. Lalu apa yang terjadi? Kamu bakal jadi mahasiswa yang pasrah dengan keadaan, ikuti arus doang, lulus cuma sekedar lulus atau bahkan mutung di tengah jalan. Nah, saat itu aku menyadari bahwa aku lemah di matematika dan fisika, sehingga aku menutup mata pada jurusan teknik. Dan aku sangat tertarik pada mata pelajaran biologi, khususnya biologi manusia. Yang kedua, aku mempertimbangkan tentang tujuan. Tujuan yang kumaksud di sini adalah semacam cita-cita. Ingin jadi apa aku selanjutnya. Tentu dari semua jurusan kuliah yang ada, tujuannya adalah untuk mendapatkan pekerjaan.Tapi aku tidak ingin pekerjaan yang cuma sekedar kerja dan dapat uang. Aku ingin yang lebih dari itu! Kalau bisa mendapat lebih dari itu kenapa tidak? Hehehe. Aku ingin bekerja yang dapat uang iya, dapat pahala iya, bisa mengabdi sama negara iya. Oke, aku maruk sekali. Jadi, begitulah asal-usulnya kenapa aku memilih jurusan kebidanan. Jadi, terjawablah sudah pertanyaan itu.
Tadi katanya takut sama darah? Kok milih jadi bidan?
Iya, banget malah! Sebenarnya aku adalah orang yang plin plan. Kenapa aku plin plan? Karena aku selalu memiliki 2 pikiran (bahkan lebih) dalam satu kasus. Apa yang harus aku lakukan ketika dihadapkan pada pilihan? Aku selalu mencari sisi positif dan negatifnya. Hal ini juga yang sering membuatku plin plan. Tapi aku berusaha selalu mencari sisi positifnya sebanyak mungkin ketika aku sudah menentukan pilihan. Kembali pada pertanyaan di atas. Aku memang takut darah bahkan sampai saat ini. Tapi aku yakin secara bertahap aku akan terbiasa menghadapi situasi ini. Caranya? Aku memacu diriku setiap menghadapi situasi buruk. Aku tidak ingin jadi pecundang. Dan apa yang ada di pikiranku? Sederhana. Jika aku tidak bisa, maka aku harus belajar. Cuma itu. Ketika sudah terpeleset, nyemplunglah sekalian ditambah berenang untuk menikmatinya. Apakah yang bisa kita lakukan selain hadapi dan nikmati?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS