Jadi apa ya? Jadi apa
prok prok prok..
Kalau ditanya tentang
cita-cita mau jadi apa, saja sejak dari orok sampai kelas 12 SMA aku jawab
GURU. Kalau ditanya kenapa, mungkin karena jika ditarik garis keturunan, dari
jaman nenek moyang Mbah buyut, sampai ibuku semuanya jadi guru. Lalu
kenapa aku bisa nyasar kuliah di kebidanan? Ceritanya panjang!
Jujur saja, dari orok
sampai dengan SMA kelas 12 aku sama sekali tidak tertarik dengan bidang
kesehatan. Yang ada di pikiranku hanya darah dan bukan sebuah rahasia bahwa aku
merasa sangat ngeri dengan darah. Kok masuk bidan? (2) Sabar, ceritanya
panjang!
Sejak awal masuk SMA,
bapakku menyarankan aku masuk kebidanan dan apa jawabanku saat itu? BIG NO!
Bahkan aku sempat bilang bahwa lebih baik aku nggak kuliah daripada harus masuk
kebidanan. Kok sekarang masuk kebidanan sih? (3) IYA, SABAR, aku udah bilang
kalau ceritanya panjang, kan?
Bidan. Bidan adalah salah
satu profesi abadi yang tertua. Itulah kenapa, ketika orang mendengar
kata bidan, mungkin yang di pikirannya adalah dukun bayi. Bidan, tukang nggeret
jabang bayi dari rahim emaknya. Bidan sering dipandang sebelah mata oleh banyak
orang. Siswa SMA kebanyakan maunya jadi dokter! Mungkin gara-gara waktu kecil
sering dengar lagu Susan yang pengen jadi dokter.
Kelas 12 SMA, memang
waktu yang paling membuat risau. Memilih jurusan bagaikan memilih jodoh; bakal
dipakai selamanya. Siapapun tidak ingin salah langkah. Begitu pula aku. Aku
memang bukan siswa yang terhitung pandai di kelas. Aku ambil jurusan favoritku.
Jurusan itu adalah jurusan dengan grade paling rendah di PTN yang cukup
terkemuka ketika SNMPTN. Dan aku TIDAK LOLOS. Kecewa? Pasti! Untung saja,
sebelumnya aku sudah mendaftar di beberapa politeknik kesehatan melalui jalur
PMDP. Sehingga paling tidak, aku sudah punya pegangan untuk ke depannya.
Puji Tuhan, aku diterima
di salah satu perguruan tinggi kedinasan di bawah Kementerian Kesehatan RI,
yaitu Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya. Aku mengambil program studi DIII
Kebidanan kampus Magetan. Diterima di perguruan tinggi itu rasanya lega,
bahagia, bingung, tiba-tiba semangat, bersyukur, takut, khawatir semuanya jadi
satu!
Aku sempat dipandang
sebelah mata karena ambil kebidanan, bahkan itu sempat membuatku drop untuk
beberapa bulan. Tapi aku memang dasarnya memang pendendam, jadi aku ingin
sekali menunjukkan kepada mereka bahwa aku tidak salah pilih. Ya, cuma itu
caraku untuk balas dendam kepada mereka. Just show them that you can and you
will get what you want!
Oh
ya, kenapa kebidanan?
Aku sendiri juga bingung.
Haha. Gak ding, waktu aku mencari jurusan yang cocok denganku. Aku mempertimbangkan
2 hal. Yang pertama, aku mempertimbangkan kemampuan dan
ketertarikanku. Kenapa? Karena percuma ketika kamu memelajari sesuatu yang
sama sekali tidak membuatmu tertarik! Hal itu malah bikin bosan, jenuh, dan
kamu tidak akan enjoy dalam menjalani kuliah. Lalu apa yang terjadi? Kamu bakal
jadi mahasiswa yang pasrah dengan keadaan, ikuti arus doang, lulus cuma sekedar
lulus atau bahkan mutung di tengah jalan. Nah, saat itu aku menyadari bahwa aku
lemah di matematika dan fisika, sehingga aku menutup mata pada jurusan teknik.
Dan aku sangat tertarik pada mata pelajaran biologi, khususnya biologi manusia.
Yang kedua, aku mempertimbangkan tentang tujuan. Tujuan
yang kumaksud di sini adalah semacam cita-cita. Ingin jadi apa aku selanjutnya.
Tentu dari semua jurusan kuliah yang ada, tujuannya adalah untuk mendapatkan
pekerjaan.Tapi aku tidak ingin pekerjaan yang cuma sekedar kerja dan dapat
uang. Aku ingin yang lebih dari itu! Kalau bisa mendapat lebih dari itu kenapa
tidak? Hehehe. Aku ingin bekerja yang dapat uang iya, dapat pahala iya, bisa
mengabdi sama negara iya. Oke, aku maruk sekali. Jadi, begitulah asal-usulnya
kenapa aku memilih jurusan kebidanan. Jadi, terjawablah sudah pertanyaan itu.
Tadi
katanya takut sama darah? Kok milih jadi bidan?
Iya, banget malah!
Sebenarnya aku adalah orang yang plin plan. Kenapa aku plin plan? Karena aku
selalu memiliki 2 pikiran (bahkan lebih) dalam satu kasus. Apa yang harus aku
lakukan ketika dihadapkan pada pilihan? Aku selalu mencari sisi positif dan
negatifnya. Hal ini juga yang sering membuatku plin plan. Tapi aku berusaha
selalu mencari sisi positifnya sebanyak mungkin ketika aku sudah menentukan
pilihan. Kembali pada pertanyaan di atas. Aku memang takut darah bahkan sampai
saat ini. Tapi aku yakin secara bertahap aku akan terbiasa menghadapi situasi
ini. Caranya? Aku memacu diriku setiap menghadapi situasi buruk. Aku tidak
ingin jadi pecundang. Dan apa yang ada di pikiranku? Sederhana. Jika aku tidak
bisa, maka aku harus belajar. Cuma itu. Ketika sudah terpeleset, nyemplunglah
sekalian ditambah berenang untuk menikmatinya. Apakah yang bisa kita lakukan
selain hadapi dan nikmati?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar