Pages

Berkat Tuhan Paket Super Combo

Jumat, 26 Februari 2016




24  Februari 2016
Today is a greaaaatttt daaaayyyy!!!
Hari ini aku melaksanakan yudisium semester 1. Iya, pertama kali aku mengikuti yudisium dan pertama kali pula aku memakai jas almamater Poltekkes Kemenkes Surabaya. Aku sangat menanti-nantikan hari ini karena hari ini adalah hari dimana aku diberi kepastian IPK semester 1.  
 
Berdebar? Pasti! Ketika 3 dosen masuk kelasku, rasanya mulas tak tertahan dan kebelet pipis. Waaahh nggak bisa dijelaskan lah pokoknya! Khawatir dengan IPKku. Penasaran juga iya. Tapi aku sungguh sudah percaya diri dan optimis atas apa yang telah aku usahakan di semester 1 ini.

Berdebar menunggu IPK
Dan yaaaa, akhirnya pengumuman IPK. IPK hanya diumumkan secara lisan. And guess whaaaattt! Ini pertama kali aku berada di peringkat pertama. Hiyaaaaaa! Rasanya bersyukur sekali, pingin nangis, dan aaaahhh tidak bisa dijelaskan juga lah pokoknya. Langsung ingat orang tua dan ingat bagaimana aku bisa bertahan di sini sampai detik ini. Sama sekali di luar ekspektasi.  YEAH! Aku akan bawa pulang IPK buat Bapak, Ibu dan Mbah di rumah!
Sumringah setelah pengumuman IPK
Setelah yudisium aku pulang (lagi) ke Pare karena seisi asrama akan pulang. Jadi aku belum ada 24 jam di asrama dan harus pulang lagi. Untungnya aku pulang dengan  nilai baik. Coba aku dapat nilai yang biasa-biasa saja dan aku pulang. Mungkin pepatah Jawa yang tepat adalah “Ula marani gepuk” alias cari mati. Haha. Nggak kok, orang tuaku cuma suka ngomel. Dan omelan merekalah yang membuatku seperti ini.
And this is my favorite part of today!
Naik angkutan umum dari asrama ke terminal Maospati. Dari terminal Maospati aku naik bus Sugeng Rahayu menuju ke terminal Nganjuk. Bus dalam keadaan penuh, tapi  tidak sampai ada yang berdiri. Puji Tuhan, aku mendapat tempat yang strategis untuk duduk bertiga dengan teman-temanku sehingga bisa mengurangi kantukku. Ngantuk merupakan bahaya besar bagiku, karena aku takut kebablasan dan tidak turun di tempat yang semestinya.
Ketika aku hampir sampai di terminal Nganjuk, aku segera berpamitan kepada Bapak di sebelahku yang sebelumnya sempat ngobrol ringan denganku. Juga berpamitan kepada teman-temanku. Aku berdiri dan langsung menuju kursi depan untuk memudahkan dan mempercepat aku ketika turun di terminal.
Karcis bus Kawan Kita
Sekitar lima orang turun di terminal Nganjuk ini. Dan aku segera berlari ke arah bus Kawan Kita dengan tujuan Blitar yang dalam keadaan kosong. Bersamaku ada seorang mas-mas yang juga berasal dari bus yang sama sebelumnya. Aku masuk melalui pintu belakang dan ia masuk melalui pintu depan. Ia memilih kursi paling depan, tepat di sebelah bapak supir.  Aku memilih duduk di sebelah pintu depan dengan pertimbangan agar aku mudah ketika turun dan lebih dekat dengan Bapak kenek sehingga aku bisa turun tepat di tempat yang aku inginkan. Tak lama, bus mulai melaju. Baru sekitar sepuluh menit perjalanan, tiba-tiba hujan deras dan karena pintu dibuka, aku sedikit terkena air hujan dari luar dan akhirnya aku berpindah ke tempat yang lebih depan. Tepat di belakang mas-mas tadi.
Beberapa penumpang ada yang naik dan ada yang turun. Sampai pada akhirnya di bus hanya ada lima orang, Bapak supir, bapak kenek, aku, mas-mas yang tadi dan seorang laki-laki di belakang. Bus tiba-tiba berhenti di daerah dekat Lirboyo. Aku ngobrol sedikit dengan bapak kenek mengenai kendaraan umum yang menuju ke Kediri. Kemudian mas-mas di depanku tadi juga mengajakku ngobrol.
Setelah lama ngobrol mengenai banyak hal mulai dari tempat kuliah, jurusan, rumah, dan lain-lain, dia mengulurkan tangannya dan menanyakan namaku, aku menyebutkan namaku. Dia menyebutkan namanya. Aku sempat tercengang dengan namanya. Namanya adalah nama yang umum dipakai orang Kristen. Ia mengetahui ketercenganganku, lalu bertanya “Lho, pernah punya teman dengan nama yang sama?” Aku menjawab “Nama sampean sama kayak nama Baptis Masku.” Lalu dia menjawab “Itu juga nama Baptisku”.
And whaaaaattttt!! Dia juga seorang Katolik, dan dia bilang dia pernah ke Gerejaku di Pare. Waaah, ternyata aku bertemu dengan saudara seiman. Rasanya seperti bertemu dengan saudara yang sudah lama nggak ketemu! Aku selalu excited ketika bertemu dengan sesama Katolik. Entah kenapa. Rasanya itu kayak kalian pergi ke luar negeri dan ketemu sama-sama orang Indonesia di sana!
Daaaannn hari ini benar-benar jadi a great day! Tuhan sedang memberi berkat super combo hari ini.
Thank You, Jesus!

Pantang & Puasa

Selasa, 23 Februari 2016



Sejak Rabu Abu hingga menjelang perayaan paskah, umat Katolik yang berusia 14 tahun ke atas diwajibkan untuk berpantang dan juga diwajibkan untuk berpuasa bagi yang telah berusia 18 tahun ke atas. Puasa dan pantang dilakukan ketika masa prapaskah yaitu selama 40 hari.
Berpantang artinya mengurangi apa yang kita sukai, pantang yang paling umum adalah pantang makan daging. Selain itu kita juga dapat menambah pantangan-pantangan lain, misalnya bagi bapak-bapak yang hobinya merokok, dapat melakukan pantang merokok, atau ibu-ibu yang suka berbelanja, dapat melakukan pantang belanja.
Dalam Katolik, puasa tidak diikat oleh aturan-aturan yang rumit. Yang aku mengerti hingga saat ini, berpuasa secara Katolik adalah dengan cara makan kenyang satu kali sehari. Jika kita biasanya makan tiga kali sehari, maka ketika berpuasa, kita hanya makan kenyang satu kali sehari. Oh ya, makan kenyang artinya ‘cukup’ kenyang, bukan terlalu kenyang. Jika kita hanya makan kenyang sekali sehari, maka dua jatah makan kita, dapat kita berikan kepada yang tidak mampu. Inilah yang dimaksud dengan Aksi Puasa Pembangunan (APP).
Pantang dan puasa bukan hanya perkara tidak makan. Selama 40 hari, umat Katolik diharapkan turut serta dalam penderitaan Kristus yang ditunjukkan dengan perilaku sehari-hari. Misalnya, tidak menggunakan perhiasan sebagai tanda duka. Atau dapat ditunjukkan dengan menggunakan pakaian yang sederhana. Hal ini juga ditunjukkan dalam perayaan ekaristi, dimana lonceng tidak dibunyikan dan musik pengiring yang hanya digunakan untuk mengangkat nada saja.
Apakah esensi dari pantang dan puasa?
Pantang dan puasa tidak hanya semata-mata untuk kesehatan saja. Tetapi kontrol diri. Menunjukkan sikap berkabung karena Yesus sedang dalam sengsara. Kita turut menemaniNya dengan pantang dan puasa. Selama 40 hari kita dapat hidup dengan sesederhana mungkin. Menunda kesenangan-kesenangan kita hingga Paskah tiba. Namun perilaku hidup sederhana ini, akan lebih baik jika diteruskan di waktu berikutnya, tidak hanya ketika Masa Pra Paskah tiba.

Selamat Berpantang dan Berpuasa!

Kenapa Memilih Bidan?

Rabu, 17 Februari 2016

Jadi apa ya? Jadi apa prok prok prok..
Kalau ditanya tentang cita-cita mau jadi apa, saja sejak dari orok sampai kelas 12 SMA aku jawab GURU. Kalau ditanya kenapa, mungkin karena jika ditarik garis keturunan, dari jaman nenek moyang Mbah buyut, sampai ibuku semuanya jadi guru. Lalu kenapa aku bisa nyasar kuliah di kebidanan? Ceritanya panjang!
Jujur saja, dari orok sampai dengan SMA kelas 12 aku sama sekali tidak tertarik dengan bidang kesehatan. Yang ada di pikiranku hanya darah dan bukan sebuah rahasia bahwa aku merasa sangat ngeri dengan darah. Kok masuk bidan? (2) Sabar, ceritanya panjang!
Sejak awal masuk SMA, bapakku menyarankan aku masuk kebidanan dan apa jawabanku saat itu? BIG NO! Bahkan aku sempat bilang bahwa lebih baik aku nggak kuliah daripada harus masuk kebidanan. Kok sekarang masuk kebidanan sih? (3) IYA, SABAR, aku udah bilang kalau ceritanya panjang, kan?
Bidan. Bidan adalah salah satu profesi abadi yang tertua.  Itulah kenapa, ketika orang mendengar kata bidan, mungkin yang di pikirannya adalah dukun bayi. Bidan, tukang nggeret jabang bayi dari rahim emaknya. Bidan sering dipandang sebelah mata oleh banyak orang. Siswa SMA kebanyakan maunya jadi dokter! Mungkin gara-gara waktu kecil sering dengar lagu Susan yang pengen jadi dokter.
Kelas 12 SMA, memang waktu yang paling membuat risau. Memilih jurusan bagaikan memilih jodoh; bakal dipakai selamanya. Siapapun tidak ingin salah langkah. Begitu pula aku. Aku memang bukan siswa yang terhitung pandai di kelas. Aku ambil jurusan favoritku. Jurusan itu adalah jurusan dengan grade paling rendah di PTN yang cukup terkemuka ketika SNMPTN. Dan aku TIDAK LOLOS. Kecewa? Pasti! Untung saja, sebelumnya aku sudah mendaftar di beberapa politeknik kesehatan melalui jalur PMDP. Sehingga paling tidak, aku sudah punya pegangan untuk ke depannya.
Puji Tuhan, aku diterima di salah satu perguruan tinggi kedinasan di bawah Kementerian Kesehatan RI, yaitu Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya. Aku mengambil program studi DIII Kebidanan kampus Magetan. Diterima di perguruan tinggi itu rasanya lega, bahagia, bingung, tiba-tiba semangat, bersyukur, takut, khawatir semuanya jadi satu!
Aku sempat dipandang sebelah mata karena ambil kebidanan, bahkan itu sempat membuatku drop untuk beberapa bulan. Tapi aku memang dasarnya memang pendendam, jadi aku ingin sekali menunjukkan kepada mereka bahwa aku tidak salah pilih. Ya, cuma itu caraku untuk balas dendam kepada mereka. Just show them that you can and you will get what you want!
Oh ya, kenapa kebidanan?
Aku sendiri juga bingung. Haha. Gak ding, waktu aku mencari jurusan yang cocok denganku. Aku mempertimbangkan 2 hal. Yang pertama, aku mempertimbangkan kemampuan dan ketertarikanku. Kenapa? Karena percuma ketika kamu memelajari sesuatu yang sama sekali tidak membuatmu tertarik! Hal itu malah bikin bosan, jenuh, dan kamu tidak akan enjoy dalam menjalani kuliah. Lalu apa yang terjadi? Kamu bakal jadi mahasiswa yang pasrah dengan keadaan, ikuti arus doang, lulus cuma sekedar lulus atau bahkan mutung di tengah jalan. Nah, saat itu aku menyadari bahwa aku lemah di matematika dan fisika, sehingga aku menutup mata pada jurusan teknik. Dan aku sangat tertarik pada mata pelajaran biologi, khususnya biologi manusia. Yang kedua, aku mempertimbangkan tentang tujuan. Tujuan yang kumaksud di sini adalah semacam cita-cita. Ingin jadi apa aku selanjutnya. Tentu dari semua jurusan kuliah yang ada, tujuannya adalah untuk mendapatkan pekerjaan.Tapi aku tidak ingin pekerjaan yang cuma sekedar kerja dan dapat uang. Aku ingin yang lebih dari itu! Kalau bisa mendapat lebih dari itu kenapa tidak? Hehehe. Aku ingin bekerja yang dapat uang iya, dapat pahala iya, bisa mengabdi sama negara iya. Oke, aku maruk sekali. Jadi, begitulah asal-usulnya kenapa aku memilih jurusan kebidanan. Jadi, terjawablah sudah pertanyaan itu.
Tadi katanya takut sama darah? Kok milih jadi bidan?
Iya, banget malah! Sebenarnya aku adalah orang yang plin plan. Kenapa aku plin plan? Karena aku selalu memiliki 2 pikiran (bahkan lebih) dalam satu kasus. Apa yang harus aku lakukan ketika dihadapkan pada pilihan? Aku selalu mencari sisi positif dan negatifnya. Hal ini juga yang sering membuatku plin plan. Tapi aku berusaha selalu mencari sisi positifnya sebanyak mungkin ketika aku sudah menentukan pilihan. Kembali pada pertanyaan di atas. Aku memang takut darah bahkan sampai saat ini. Tapi aku yakin secara bertahap aku akan terbiasa menghadapi situasi ini. Caranya? Aku memacu diriku setiap menghadapi situasi buruk. Aku tidak ingin jadi pecundang. Dan apa yang ada di pikiranku? Sederhana. Jika aku tidak bisa, maka aku harus belajar. Cuma itu. Ketika sudah terpeleset, nyemplunglah sekalian ditambah berenang untuk menikmatinya. Apakah yang bisa kita lakukan selain hadapi dan nikmati?

Run Untill Finish!

Senin, 15 Februari 2016


Sometime, kita harus memahami dalam-dalam rencana Tuhan. Satu hal kecil yang terlihat begitu sepele bisa jadi akan memengaruhi hal besar dalam hidup. That's why kita harus teliti dalam setiap hal kecil. Yang jarang kita sadari, kita kadang terpeleset di hal kecil. Misalnya, kita melakukan sesuatu yg kita anggap begitu kecil dengan setengah-setengah, entah disadari atau tidak kita akan terbiasa melakukan hal itu dengan setengah-setengah sampai seterusnya. Padahal, jika hal itu kita lakukan 100% sampai benar-benar finish mungkin itu dapat menjadi hal besar di hidup kita.

Apa yang bisa disimpulkan? Lakukan semua hal dengan totalitas! Jika itu gagal, gagallah sekalian. Habiskan jatah gagal sekarang dan belajarlah dari catatan kegagalan di masa lalu untuk jadi lecutan di masa depan!

Keep spirit!

Takdir

Image Source: http://morguefile.com




Mengapa kau tak pernah mau mengalah melawan takdir? Seberapapun lamanya engkau dengannya, jika Tuhan mau kau untukku, kau bisa apa? Sudah kukatakan, aku ini sudah memohonkanmu untukku. Kau saja yang tak pernah percaya padaku. Aku sudah capai-capai menunggu sejak kita masih bocah, masih saja kau main-main dengan hati yang lain. Tahu begitu, mengapa kau berpatah-patah hati dengan wanita itu? Kau tahu, sejak dari awal, kau sudah diberi firasat olehNya! Kau saja yang berhati batu! Kini wanitamu itu sudah pergi. Ia pergi dengan takdirnya. Seperti kau, kini kau sudah menggenggamku dan kau berada di tempat yang benar, kau tak perlu lagi berlayar mencari hati yang lain, sebab aku pelabuhanmu (yang terakhir).
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS