Ketika itu kau benar-benar sibuk dan berdebar. Kau bilang kau haus. Aku yang penuh peluh dan kaki hampir lumpuh harus berlari demi sebotol air mineral dengan sedotan; tanpa diminta. Aku kembali dengan menyeret kaki setengah berlari. Kau menerimanya dengan kejut, heran. Kau bilang aku teman yang baik. Kau minum hingga separuh, kemudian menitipkannya kembali padaku, kau berlari. Tenggorokanku terasa lega, meski tak ikut digelontor air. Kau naik ke atas sana dengan sebuah mawar di tanganmu, menghadap aku, aku tersenyum. Kemudian mawar itu sampai pada orang yang tepat, di tangan sahabatku.
22 Oktober 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar