Wajahmu hanya 10% tersimpan dalam ingatanku, sisanya adalah suara yang membikin rindu. Kata-kata yang merdu, lagu-lagu sendu, gurauan tak bermutu, penyemangat yang memburu, argumen yang diadu, jadi rindu yang membatu. Bolehkah ia tak lagi bisu? Adakah ijin supaya ia diperdengarkan untuk aku? Gelak tawa kini jadi kaku, senyum-senyum itu palsu, aku mengaku. Janji kusut sudah berdebu, disimpan dalam-dalam, terbakar, menjadi abu. Adakah mungkin janji bertemu menjadi baru? Kalau saja dulu tak diburu waktu. Andai saja aku duduk di sampingmu.
Jumat, 8 April 2016, 22.30 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar